Translate

Jumat, 17 Agustus 2012

Studi Kasus Tentang Praktik Akuntansi Biaya


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Deskripsi Umum Home Industry
Nama Home Industry       : Keripik Tempe “Ainier”
Tahun berdiri                     : 1999
Badan hukum                    : Perusahaan Perseorangan
Bidang usaha                    : Pembuatan Keripik Tempe
Alamat                              : Jalan Sanan 124
Keripik tempe “Ainier” adalah kegiatan usaha yang bergerak dalam bidang pembuatan keripik tempe. Pada mulanya, keripik tempe “Ainier” hanya memproduksi satu jenis keripik tempe yaitu keripik tempe original saja. Namun seiring berkembangnya selera konsumen, keripik tempe “Ainier” menambah jumlah variasi produknya. Hingga saat ini, keripik tempe “Ainier” telah memproduksi lebih dari dua puluh rasa keripik tempe. Beberapa variasi rasa keripik tempe antara lain, rasa udang, sapi panggang, pedas manis, seafood, barbeque, dan masih banyak variasi lainnya. Keseluruhan dari hasil keripik tempe ini dapat dikatagorikan baik, karena memiliki berbagai macam rasa, bentuk yang cukup bervariasi, serta kemasan yang menarik. Bila dibandingkan dengan produk keripik tempe sejenis (bahkan yang merupakan produk buatan pabrik), keripik tempe “Ainier” tidak kalah dari dalam segi bentuk, kemasan, rasa, hingga harganya meskipun produk keripik tempe “Ainier” ini di proses secara manual.
Cara penjualan yang dilakukan oleh keripik tempe “Ainier” yaitu dengan membuat keripik tempe sendiri dan memasarkannya melalui toko kecil yang dimiliki pemilik. Selain menjualnya di toko tersebut, pemilik juga menitipkan produk keripik tempe “Ainier” ke beberapa toko lain di berbagai tempat yang tersebar di beberapa daerah di Malang. Tidak berhenti sampai tahap tersebut, pemilik juga melayani pemesanan produk keripik tempe “Ainier” ini, untuk pemesanan produk keripik tempe “Ainier” ini biasanya dalam jumlah yang cukup besar dan tidak hanya dari kawasan Malang saja, terdapat pula pemesanan untuk luar kota bahkan luar pulau. Secara aliran finansial, keripik tempe “Ainier” ini lebih memfokuskan diri pada proses penyediaan barang jadi keripik tempe, namun tidak menutup kemungkinan pula fokus pada pesanan dari pelanggan pada waktu atau kondisi tertentu seperti hari raya, dll.
Keripik tempe “Ainier” terletak di kota Malang, lokasi tepatnya yaitu di jalan Sanan nomor 124. Untuk dapat menuju ke lokasi keripik tempe “Ainier” dari Universitas Brawijaya dapat di tempuh dengan sarana kendaraan bermotor atau kendaraan umum. Keadaan lapangan keripik tempe “Ainier” telah memenuhi standar kualitas, prasarana komunikasi, listrik, air, bersih serta transportasi cukup baik, hanya saja lokasi keripik tempe “Ainier” kurang strategis karena lokasinya yang tidak berada pada poros jalan raya melainkan dalam gang gapura industri keripik tempe Sanan. Keripik tempe “Ainier” tergabung dalam paguyuban industri keripik tempe di kawasan Sanan tersebut, di kawasan itu terdapat belasan bahkan puluhan pabrik UKM keripik tempe.
Keripik tempe “Ainier” memiliki toko yang berfungsi sebagai sarana pemasaran dan penjualan produk keripik tempe, meskipun ukuran tokonya tidak terlalu besar, toko ini cukup efektif untuk dapat melayani penjualan kripik tempe. Selain itu, pada bagian belakang toko, kita dapat melihat langsung proses pembuatan keripik tempe tersebut.
Peralatan yang digunakan untuk menunjang proses produksi keripik tempe “Ainier” antara lain panci, alat pengaduk, pisau, penggorengan, kompor minyak tanah, kompor gas, mesin pres, dan beberapa alat lainnya. Peralatan yang digunakan memang tidak sepenuhnya merupakan peralatan yang modern. Hal ini dikarenakan proses pembuatan keripik tempe yang dikalukan secara manual.
Guna menunjang proses produksi, keripik tempe “Ainier” mempekerjakan beberapa karyawan. Karyawan yang dipekerjakan merupakan orang-orang yang berasal dari kalangan keluarga maupun beberapa dari tetangga atau warga sekitar. Karyawan yang dipekerjakan dalam proses terbagi menjadi empat bagian pekerjaan, bagian pengolahan bahan baku, bagian pemotongan tempe, bagian penggorengan, dan bagian pengemasan. Bagian pengolahan bahan baku terdiri dari dua pekerja, bagian pemotongan tempe terdiri dari satu orang pekerja, bagian penggorengan tempe terdiri dari dua orang pekerja, dan bagian pengemasan terdiri dari tiga orang pekerja. Alasan mengapa bagian pengemasan mendapatkan bagian jumlah pekerja lebih banyak yaitu karena bagian pengemasan dilakukan secara satu per satu, berbeda dengan bagian lain yang dapat melakukan prosesnya sekaligus. Upah yang diberlakukan pada keripik tempe “Ainier” ini terbagi ke dalam dua jenis, upah harian untuk bagian pengolahan bahan baku, pemotongan, dan penggorengan, sedangkan untuk bagian pengemasan upahnya tergantung dari berapa hasil kemasan yang dapat dihasilkan dalam sehari kerja. Jam kerja yang berlaku pada industri keripik tempe “Ainier” adalah jam kerja yang tergolong baku, jam kerja tersebut merupakan jam kerja rutin bagi para pekerja. Meskipun memiliki pekerja-pekerja yang terampil, pemilik keripik tempe “Ainier” tetap melakukan pemantauan dan pengecekan proses pembuatan keripik tempe secara saksama. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir kerusakan, kecacatan, kehilangan, pengembalian produk, dan hal-hal sejenisnya.
1.2  Studi Kasus
Yang menjadi fokus pada studi  kasus ini adalah proses produksi dari keripik tempe “Ainier”. Dalam proses produksinya keripik tempe “Ainier” menggunakan metode “Process Costing” dengan memfokuskan pada aliran biaya produksi FIFO, dan mengidentifikasi masalah yang timbul dengan praktik akuntansi biaya.
1.3  Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan studi kasus ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan data terkait dengan proses produksi keripik tempe “Ainier”, guna menunjang hal tersebut dilakukan beberapa metode pengumpulan data. Metode yang dipakai dalam hal ini meliputi :
  1. Metode wawancara
Metode wawancara ini digunakan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan mengenai proses produksi dan praktik akuntansi biaya dari industri keripik tempe “Ainier”. Proses wawancara dilakukan dengan mendatangi keripik tempe “Ainier” secara langsung dan bertanya langsung pada pemilik serta melihat secara langsung pula proses pembuatan keripik tempe “Ainier”.
  1. Metode literatur
Terdapat beberapa bagian yang tidak dapat ditemukan jawabannya melalui metode wawancara sehingga diperlukan mengkaji beberapa literature guna kerelevanan data dan informasi yang diperoleh.


BAB II
PRAKTIK AKUNTANSI BIAYA
Home Industry Keripik Tempe Ainier
2.1 Proses Produksi Keripik Tempe Ainier
Pada hari Kamis, tanggal 20 Oktober 2011, telah dilakukan pengamatan di pabrik UKM keripik tempe Malang tepatnya di jalan Sanan nomor 124. Pabrik keripik tempe milik ibu Etik Rahmawati tersebut berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa UKM tersebut masih menggunakan cara perhitungan biaya produksi yang tradisional. Ibu Etik hanya mengitung berapa pengeluaran biayanya untuk sekali proses produksi dan berapa penghasilan jualannya tanpa memperhatikan detail atau rincian dari biaya-biayanya.
UKM keripik tempe “Ainier” ini menggunakan sistem Process Costing dalam proses produksinya, namun terkadang UKM ini juga menerima pesanan baik itu dari kota Malang maupun luar kota Malang bahkan sampai ke luar pulau. Karena itu setiap hari ibu Etik Rahmawati dan pekerjanya tidak pernah berhenti memproses pembuatan keripik tempe untuk persediaan barang jadi yang dijual melalui tokonya dan melayani pesanan yang dadakan. Dalam pembuatan keripik tempenya, toko “Ainier” memproduksi bahan baku tempenya sendiri dari kedelai karena demi menjaga dan menjamin mutu dari keripik tempenya.
Berikut adalah tahapan pembuatan kripik tempe di toko “Ainier”, yaitu:
1.    Proses pengolahan bahan baku tempe
       Perebusan kedelai, pembuangan kulit, perendaman semalaman, pada hari berikutnya dilakukan pergantian air kedelai dan perebusan kembali, pendinginan, penaburan ragi lalu didiamkan hingga dua hari berikutnya.
2.    Proses pemotongan tempe
Tempe yang sudah jadi dari proses pengolahan bahan baku tempe tadi kemudian dipotong tipis-tipis dan dibumbui dengan tepung, kanji dan bumbu-bumbu dasar.
3.    Proses penggorengan
Tempe yang dari proses pemotongan tempe kemudian digoreng hingga berwarna coklat keemasan kemudian disaring dan diangin-anginkan.
4.    Proses pengemasan
Tempe dari proses penggorengan kemudian dikemas dalam ukuran plastik yang kecil dan besar dengan bumbu rasa-rasa yang bervariasi.
Dalam tahapan pembuatan keripik tempe di toko “Ainier” tersebut, perhitungan biaya atas setiap tahapan atau departemen yang satu dengan yang lainnya tidak dilakukan sehingga cukup menyulitkan untuk mengidentifikasi rincian biaya produksi lain-lain di setiap departemen. Dari proses pengolahan bahan baku tempe hingga proses pemotongan tempe jarang ditemukan kecacatan produksi, namun dalam proses penggorengan mungkin terjadi tempe yang hancur sehingga tidak mungkin dimasukkan dalam proses pengemasan. Akhirnya keripik tempe yang hancur tadi biasanya oleh pemilik dijadikan sebagai sampel keripik tempe untuk pembeli yang datang ke tokonya.
2.2 Pengamatan Akuntansi Biaya
Keripik tempe “Ainier” ini pada konsepnya membebankan biaya pada setiap hasil produksinya yang mana merupakan aliran perhitungan biaya berdasarkan proses atau berdasarkan departemen tahapan-tahapan pembuatan keripik tempe. Pada praktiknya, toko “Ainier” melakukan perhitungan biaya dengan mengakumulasikan semua biaya operasi dari setiap proses pembuatan keripik tempe setiap kali proses produksi, kemudian membagi keseluruhan biaya tersebut dengan jumlah unit keripik tempe yang dihasilkannya (dalam kilogram), sehingga diperoleh biaya per kilogram. Untuk mengetahui labanya, yang dilakukan oleh Ibu Etik adalah menghitung pendapatan penjualannya dikurangi biaya yang telah dikeluarkannya tersebut.
1.     Peninjauan unsur bahan baku

Aliran fisik dari persediaan bahan baku yang dilakukan oleh pemilik toko “Ainier” ini adalah menggunakan FIFO yaitu kedelai, ragi, tepung, dan kanji yang dibeli pertama oleh pemiliklah yang digunakannya dalam proses produksi setiap harinya. Hal ini dilakukan karena kedelai, ragi, tepung, dan kanji bila disimpan terlalu lama mungkin menjadi busuk, berjamur dan mungkin dapat merubah rasa keripik tempe nantinya sehingga akan merugikan UKM “Ainier”.
  1. Peninjauan unsur tenaga kerja
Pabrik keripik tempe “Ainier” memperkerjakan pekerja tetap yang berasal dari tetangga dan keluarganya sendiri. Total pekerjanya adalah 9 orang dimana pemilik tidak termasuk di dalamnya meskipun terkadang pemilik juga ikut membantu proses produksi keripik tempe. Sembilan tenaga kerja tersebut bekerja dalam tahapan yang berbeda. Pada departemen pengolahan bahan baku tempe, Ibu Etik mempekerjakan dua orang pekerja, pada bagian pemotongan tempe terdiri dari satu orang pekerja, pada bagian penggorengan tempe terdiri dari dua orang pekerja, dan pada bagian pengemasan terdiri dari tiga orang pekerja. Upah yang diberikan oleh ibu Etik ini terbagi ke dalam dua jenis: 1) upah harian untuk bagian pengolahan bahan baku, pemotongan, dan penggorengan, dan 2) upah yang tergantung dari berapa hasil kemasan yang dapat dihasilkan dalam sehari kerja di departemen pengemasan. Jam kerja para tenaga kerja ini adalah jam kerja tetap setiap harinya pada umumnya.
  1. Peninjauan unsur Overhead
Perhitungan overhead pabrik tidak diperhatikan oleh pabrik keripik tempe “Ainier” tersebut karena pada umumnya biaya overhead yang dikeluarnya termasuk biaya overheadnya sehari-hari dalam urusan rumah tangga pemilik. Biaya-biaya yang ada juga tidak pernah dilakukan perhitungan terpisah antara biaya langsung dan biaya tidak langsungnya dan semua hanya berdasarkan pada perkiraan seperti biaya untuk minyak gas, bumbu-bumbu, minyak goring, gas, utilitas dan peralatan masak lainnya.
2.3 Implementasi Akuntansi Biaya
Dalam proses produksi bahan baku tempe yang dilakukan oleh keripik tempe “Ainier” ini adalah membutuhkan bahan baku berupa kedelai 200 kilogram @ Rp 5.600,-/kg dan ragi 400 gram sebesar Rp 5.000,-. Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses pembuatan tempe ini adalah 2 orang yang umumnya mereka bekerja dari jam 08.00 sampai jam 14.00 atau sekitar 6 jam dengan gaji setiap harinya adalah Rp 45.000,-. Dalam tahapan ini dibutuhkan waktu selama 4 hari untuk membuat tempe namun mereka hanya bekerja pada 2 hari kerja yaitu hari proses pengolahan kedelai sedangkan 2 hari sisanya mereka tidak bekerja karena menunggu kedelai yang telah diragi tadi menjadi tempe. Karena pada tahapan ini mereka hanya bekerja 2 hari kerja maka total biaya tenaga kerja langsung dalam tahapan ini setiap sekali proses produksinya adalah Rp 180.000. Mengenai biaya FOH di departemen ini, berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka dapat diperkirakan bahwa biayanya adalah biaya utilitas 100.000, biaya kompor 150.000 untuk 5 tahun, biaya peralatan masak 300.000 untuk 5 tahun dan biaya minyak gas untuk merebus kedelai satu kali proses produksi sebesar 100.000.
Dalam proses pemotongan tempe hanya dibutuhkan biaya tenaga kerja sebanyak 1 orang dengan biaya tenaga kerja langsungnya adalah Rp 45.000,-/hari kerja, karena dalam satu kali proses produksi hanya butuh satu hari untuk proses pemotongan maka biaya yang dikenakan di departemen tahapan ini adalah Rp 45.000,-
Untuk departemen atau bagian proses penggorengan tempe setiap kali proses produksi tempe dibutuhkan bahan baku berupa tepung sekitar 20 kg sebesar Rp 75.000,-, kanji sekitar 30 kg sebesar Rp 150.000,- dan bumbu-bumbu sebesar Rp 75.000,-. Untuk tenaga kerjanya pada tahapan ini butuh 1 orang pembumbu dan 2 orang penggoreng, total 3 orang dengan bayaran masing-masing Rp 45.000,- per harinya, karena di dalam satu kali proses produksi, tenaga kerja ini hanya dibutuhkan 1 hari kerja maka total biaya tenaga kerjanya adalah Rp 135.000,- Dalam departemen ini menurut pengamatan saat proses, dibutuhkan biaya FOH seperti minyak goreng 17 kg sebesar 100.000, kompor gas 250.000 untuk 5 tahun, gas 75.000 untuk satu kali proses produksi, peralatan masak 150.000 untuk 5 tahun dan utilitas 50.000.
Di departemen atau tahapan proses akhir hanya dibutuhkan bahan baku plastik untuk pembungkus seharga 50.000 dan biaya FOH berupa mesin press seharga 500.000 yang ditaksir memiliki umur ekonomis sampai 10 tahunan. Selain itu masih ada 3 orang pekerja yang membungkus tempenya dimana gaji mereka dihitung sebesar Rp 150,00 / bungkusnya.
Mengenai barang jadi yang dihasilkan oleh keripik tempe “Ainier” ini adalah sebesar 50 kilogram keripik tempe dengan bervariasi rasa dan ukuran kemasan setiap sekali proses produksinya. Menurut pemiliknya, usaha ini mampu laris dan terjual karena keuntungan yang ditargetnya hanya sebesar kira-kira 30% dari total biaya kumulatifnya. Harga jual keripik tempenya tersebut adalah tetap tergantung pada ukurannya bukan pada jenis rasanya.



BAB III
EVALUASI PRAKTIK AKUNTANSI BIAYA
Home Industry Keripik Tempe Ainier
Di dalam praktik akuntansi biaya yang diterapkan oleh Home Industri Keripik Tempe Ainier tersebut, penulis dapat mengidentifikasi beberapa keunggulan dan kelemahan ataupun masalah yang dapat terjadi baik dari segi keuangan maupun manajemen.
3.1. Sistem Akuntansi Biaya berdasarkan Proses (Process Costing)
a.      Keunggulan :
ü  Karena sifat barang yang diproduksi adalah homogen atau sejenis, penggunaan sistem akuntansi biaya berdasarkan proses dinilai lebih praktis, ekonomis, dan efisien dalam penyusunan laporan biaya produksi.
ü  Biaya proses yang dikeluarkan masing-masing dibebankan pada setiap departemen, yakni departemen pengolahan bahan baku, departemen pemotongan, departemen penggorengan, dan departemen pengemasan keripik tempe, sehingga biaya yang dikeluarkan oleh Home Industry Keripik Tempe Ainier tersebut dapat dianalisis lebih jelas melalui biaya per departemen.
ü  Dengan menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan proses, dapat diketahui semua unsur yang tercantum di tiap departemen, misalnya barang dalam prosesnya, bahan baku yang digunakan, biaya tenaga kerja, biaya overhead, dll dengan lebih rinci dan jelas, sehingga lebih mudah untuk mengetahui unit apa saja yang akan ditransfer ke departemen selanjutnya.
b.     Kelemahan :
ü  Walaupun sistem akuntansi biaya berdasarkan proses lebih mudah diterapkan, namun metode ini hanya bisa diterapkan jika barang produksinya bersifat homogen atau sejenis.
ü  Dalam pengidentifikasian dan pengklasifikasian biaya masih kurang tepat karena Home Industry Keripik Tempe Ainier masih menggunakan cara perhitungan biaya secara tradisional.
ü  Industri tidak menyediakan format laporan biaya produksi yang lebih terperinci. Dalam praktiknya industri tersebut hanya menghitung biaya berdasarkan perkiraan biaya yang digunakan dalam proses produksi.
ü  Dalam pengklasifikasian biaya overhead, Home Industry Keripik Tempe Ainier belum menerapkan klasifikasi yang runtut dan rinci, sebab hampir semua biaya overhead masih berdasarkan perkiraan.
3.2. Asumsi Aliran Biaya First In First Out (FIFO Cost Method)
a.      Keunggulan :
v  Lebih praktis, mudah diterapkan, dan dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi laba, sebab laba yang dihasilkan oleh metode FIFO lebih besar daripada metode lainnya (AVERAGE dan LIFO). Dengan menggunakan metode FIFO, dimana laba dihasilkan adalah lebih besar, diharapkan dapat menjadi tolak ukur dan motivasi bagi Home Industry Keripik Tempe Ainier untuk terus berusaha agar labanya tidak sampai menurun di periode berikutnya.
v  Dengan menggunakan metode FIFO, dimana asumsinya adalah barang yang pertama kali masuk adalah barang yang pertama kali keluar, lebih cocok digunakan oleh Home Industry Keripik Tempe Ainier, karena bahan baku keripik tempe adalah jenis bahan baku yang mudah rusak apabila terus dibiarkan terlalu lama.
b.     Kelemahan
v  Home Industry Keripik Tempe Ainier belum menerapkan metode FIFO secara konsisten. Dalam penerapannya, pemilik hanya menilai berdasarkan perkiraan saja.
v  Untuk mengetahui total laba yang dihasilkan masih belum sesuai dengan prinsip akuntansi biaya, sebab Home Industry Keripik Tempe Ainier tidak mempunyai format laporan laba rugi yang baku dan angka-angka yang digunakan masih menggunakan angka perkiraan.
3.3     Keunggulan dan Kelemahan Dilihat dari Manajamen
a.     Keunggulan
§ Home Industry Keripik Tempe merupakan home industry yang prospeknya bagus di masa depan, karena peminat keripik tempe dari berbagai daerah jumlahnya cukup besar. Hal ini dibuktikan dengan pemasaran keripik tempe Ainier sudah menjangkau hingga luar kota Malang.
§ Inovasi terhadap produk keripik tempe sudah cukup baik, yakni dengan menyediakan berbagai pilihan rasa, sehingga menambah nilai keunikan terhadap produk tersebut serta mampu menarik minat pembeli untuk mencoba rasa-rasa yang baru.
§ Seluruh tenaga kerja yang digunakan adalah berasal dari kerabat dekat, sehingga diharapkan mampu membangun kepercayaan dan kerjasama yang solid antar tenaga kerja.
b.     Kelemahan
§ Promosi untuk produk keripik tempe Ainier masih kurang gencar.
§ Daerah pemasaran terbilang cukup terbatas, karena  Home Industry Keripik Tempe Ainier memasarkan produk hingga keluar kota Malang jika ada pesanan saja.
§ Banyaknya pesaing dalam produksi keripik tempe, mengingat lokasi home industry ini berada di Sentra Industri Keripik Tempe Sanan.



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
·            Home Industry Keripik Tempe Ainier menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan proses (Process Costing) dan asumsi aliran biaya FIFO (First in First Out)
·            Bila dilihat dari tahapan proses produksinya terdapat empat departemen dalam proses produksi keripik tempe Ainier antara lain: 1) departemen pengolahan dan pembuatan bahan baku tempe, 2) departemen pemotongan 3) departemen penggorengan 4) departemen pengemasan
·            Pelaksanaan akuntansi biaya di Home Industry Keripik Tempe Ainier masih menggunakan cara tradisional dan perhitungan biaya berdasarkan perkiraan, sehingga sedikit mengalami kesulitan untuk mengetahui laba bersih sesuai kondisi sebenarnya serta unsur-unsur yang tercantum dalam laporan biaya produksi, misalnya barang dalam proses, bahan baku, tenaga kerja, dan biaya overhead.
4.2 Saran
Ø  Karena Home Industry Keripik Tempe Ainier masih menggunakan cara tradisional dan perincian biaya berdasarkan perkiraan, sebaiknya diadakan sebuah sosialisasi mengenai penerapan akuntansi biaya bagi Home Industry guna menciptakan sebuah laporan keuangan dan laporan biaya produksi yang lebih jelas dan terperinci.
Ø  Sebaiknya, Home Industry Keripik Tempe Ainier menerapkan konsep business entity (kesatuan usaha), yakni ada pemisahan antara industri dengan harta pemilik, terutama dalam penyusunan laporan keuangannya.

Tidak ada komentar: